Blue September

I’m staring at the ceiling
Pretending like there are million stars with a lonely moon
The sky so black that makes them shining brighter
It’s so quite here
The wind trying to touch my skin as my heart growing cold
If you wonder, youre the one I’m thinking about
And I realise I don’t want another heart to fill the holes that you made
But I should let you go
Because sometimes we have to.

– fhirapadila // someone who once loved you

Makassar di minggu malam. | september 16

Advertisements

MY GOODBYE – 598 Days

Hari selasa di malam hari
Kala bulan bersinar
Meski bintang menolak menemani

Hari selasa di malam hari
Kala cuaca memilih untuk dingin
Meski suara angin sangat senyap

Hari selasa di malam hari
Kala aku menyadari sesuatu hal tak bisa dipaksakan.
Meski sangat susah untuk mengakui itu benar.

Hari selasa di malam hari
Kala aku berhenti mengagumimu
Meski sebenarnya enggan

Kalau kau bertanya, janganlah risau. Detik ini aku telah berhenti. Berhenti untuk jatuh kepadamu.

Terima kasih telah membuatku membencimu.

-fhirapadila

Somewhere cold. 8 pm.

S O M E O N E

Setidaknya kita semua punya satu tempat, yang mana kala kita melihatnya ada saja seseorang yang teringat di pikiran. Merasa ingin kembali tapi waktu enggan tuk mengulang.

Setidaknya kita semua punya suatu aroma, yang mana kala kita menciumnya ada saja seseorang yang teringat di pikiran.

Karena dalam hidup ini, meski manusia mampu melupakan tapi kita tidak pernah bisa benar-benar menghapus seseorang.

-fhirapadila

Camba. [August, 21 2018]

F A L L

Sadar tidak, kaulah seorang kaum adam yang menjatuhkan hatiku. Jatuh dalam hal indah namun belakangan ini aku sadar kau juga penyebab kejatuhanku dalam hal sesak.

-fhirapadila

Camba. 11 pm.

LOVE AIN’T SIMPLE

Kita selalu punya seseorang untuk disayangi. Disimpan rapat di dalam hati dalam belenggu rahasia. Ingin menyuarakan langsung perihal perasaan ini. Niat ada, namun hanya sebatas angan. Karena mengakui itu tidaklah pernah mudah.

-fhirapadila

Hi, you there.

590 days

Tau apa saja yang berlabuh di kepalaku saat ditanya hal apa yang manis dalam hidupku? Mudah, termasuk namamu, dirimu, dan apa yang sempat kau dan aku lewati.

Terkadang kutanyakan pertanyaan, kenapa mataku dalam detik-detik waktu tidak bisa sama sekali menatapmu?

Terkadang kutanyakan, kenapa perasaan ini ada?

Tapi yg terpenting, apakah selama ini aku cukup pandai menyembunyikan perasaan? Atau bahkan kau yang pandai menyembunyikan sebuah fakta bahwa kau sudah tahu perasaanku.

Bisakah kita sedikit lebih saling memahami?

Barangkali ini saatnya kita jujur. Jujur apa yang hatimu rasa kala kau berada sejengkal denganku.

Barangkali ini saatnya kita jujur. Jujur bahwa selama ini hubungan kau dan aku merupakan apa-apa yang hanya sembunyi dalam egomu dan egoku.

Barangkali ini saatnya kita jujur. Jujur bahwa rasa nyaman itu muncul kala genggaman tanganmu pas di tanganku.

Bisakah kita menerima fakta. Fakta bahwa kau dan aku punya sesuatu hal.

Yang terpenting, bisakah kita jujur. Kali ini saja. Bahwa perasaan ini nyata.

– fhirapadila

[ Senin di 13 Agustus ]